Monday, June 10, 2013

Kontes Sapi Dan Kambing Diadakan di Wlingi Blitar

Untuk kesekian kalinya Kabupaten Blitar dijadikan ajang kontes ternak sapi dan kambing. Tak pelak, saat ini puluhan komunitas peternak sapi dan kambing kontes ikut meramaikan kontes yang digelar di Pasar Terpadu, Kelurahan Tangkil
, Kecamatan Wlingi, Senin (10/6/2013).

Kontes itu diikuti sekitar 352 peserta dari berbagai kota dan kabupaten di Jatim. Jumlah kambing yang dilombakan sebanyak 102 ekor dan sapi sebanyak 250 ekor.

Dalam kontes ini tak sembarangan kambing dan sapi bisa diikutkan karena kriteria penilaiannya sangat ketat. Di antaranya, postur tubuhnya harus bagus dan seimbang, mulai tinggi, lingkar pinggul, panjang badan, usia di atas tiga tahun dan beratnya.

Namun, panitia tak menentukan batasannya, hanya sapi yang paling besar atau berat, yang akan keluar sebagai pemenangnya.

"Sapi yang paling berat dalam kontes ini yang menang. Namun, untuk sapi perah, yang menentukan menang tidaknya adalah ambingnya (susu). Yakni, kandungan susunya yang paling banyak. Itu dicek dengan alat simetris," kata drh Irawan, ketua panitia kontes ini.

Jenis sapi yang dilombakan di antaranya, sapi perah, sapi lokal Madura, sapi ongol (sapi berwarna putih), dan sapi hasil persilangan. Khusus sapi persilangan itu hasil persilangan antara sapi lokal (Indonesia) dengan sapi Limosin (Eropa).

Karena kontes ini tingkat jatim, maka para pesertanya banyak yang terlihat wajah lama, seperti Kusnadi (50), warga Desa Sumbersari, Kecamatan Rowokakung, Lumajang. Ia kembali membawa sapi jantannya, yang sudah 9 kali juara 1 dan terakhir menang di Malang tahun 2012 lalu. Sapinya adalah jenis Limosin, umur 3,5 tahun, berat 1,3 ton, dengan panjang 190 cm, tinggi 168 cm, dan lingkar pinggangnya 225 cm. Sapinya itu pernah ditawar Rp 95 juta namun tak diberikan karena ia minta Rp 150 juta.

"Mungkin saat ini beratnya malah bertambah atau bisa sekitar 1,5 ton," ungkapnya yang mengaku tak susah memeliharanya karena makannya wajar seperti kebanyakan sapi pada umumnya.

Namun untuk kambing, selain kriteria pemenangnya seperti sapi namun masih ada satu lagi penentunya. Yakni, ditentukan berat dan panjang ekornya. Khusus kontes kambing ini diikuti kambing ini jenis etawa, DEG (domba ekor gemuk), dan kambing gembrong.

Yang dimaksud kambing DEG ini adalah kambing keturunan Persia. Disebut DEG karena lebar dan panjang ekornya tak seperti kambing biasanya. Khususnya ekornya saja beratnya bisa sampai 15 cm, dengan panjang 25 cm sampai 30 cm.

Bahkan, tak jarang sampai menyentuh tanah. Tentunya, kandungan lemak pada ekornya, lebih banyak dari kambing biasa. Kehebatan lainnya, kambing jenis ini tahan segala cuaca karena mudah beradaptasi.

"Kebanyakan peternak kambing ekor gemuk ini berada di daerah Madura," kata Heru Prasanta Wijaya (60), peserta asal Surabaya, yang mengaku memiliki 400 ekor DEG di Madura ini.

Dari sekian DEG yang dikonteskan itu milik Heru yang paling besar. Yakni, beratnya 150 kg, lebar ekor 16 cm, panjang 26 cm dan pernah menyabet juara 1 saat kontes di Jombang tahun 2009.

"Memelihara kambing ekor gemuk itu lebih mudah karena tahan banting. Selain itu, lebih menguntungkan karena harganya lebih mahal. Bahkan kalau melahirkan di atas tiga. Untuk yang sudah juara seperti ini, harganya ya tawar menawar, bahkan pernah ditawar Rp 60 juta. Namun, kalau belum pernah juara berkisar Rp 5 juta sampai Rp 7 juta," ujarnya. - See more at: http://surabaya.tribunnews.com/index.php/2013/06/10/sapi-kontes-sapi-dan-kambing-di-blitar#sthash.tV4FCoEr.dpuf



sumber. surabaya.tribunnews.com

No comments:

Post a Comment